Author : Naya Cullen
Fandom : Breaking Dawn
Note : ini sebener na tugas paper cerpen kewartawanan gw yg td pagi gw kumpulin. yawda, taro sini ja. buat hiburan...
* * *
"Nessy-ku sayang, Mommy dan Daddy akan melanjutkan pendidikan kami di Hanover. Daddy sudah mendaftarkan mu ke sekolah La Push agar Jacob bisa menjaga mu. Jangan nakal. Love you always, Mommy and Daddy." Pesan Ibu sebelum pergi melanjutkan pendidikannya bersama Ayah ke Hanover. Dan setiap hari aku bersekolah di sekolah khusus di La Push bersama Jacob, menyenangkan juga walaupun aku agak kesepian.
Waktu berjalan cepat sekali, setelah mengalami mimpi buruk yang menimpa diriku dan orang-orang yang sangat kucintai. Semua itu bagaikan mimpi buruk yang tiada akhirnya. Sudah lepas dari lima tahun berlalu. Dan yang kusadari selama ini, diriku yang separuh manusia-separuh vampir dan memiliki keluarga serta seseorang yang aku cintai. Terakhir yang ku ingat hanya kenangan meneggangkan, yang ingin menghancurkan ku dan orang-orang yang menyayangiku. Nessy-lah panggilan akrab ku dengan nama lengkap Rennesme Cullen. Banyak yang menyukai bakatku dengan separuh elemen dalam tubuhku ini, bagaimana aku bisa berkomunikasi dengan orang lain hanya dengan menyentuh tubuh dari orang yang ingin berkomunikasi dengan ku. Aku bisa menyampaikannya dengan detail, dengan gambaran-gambaran dari masa yang lalu dan sekarang. Kata Ayah, waktu masih di dalam kandungan Ibu, Ayah bisa mendegar suaraku. Mungkin bakat ku menurun dari Ayah, Edward Cullen. Ayah bisa membaca isi pikiran semua orang kecuali Ibuku. Dan Ibu, Bella Cullen yang dahulunya adalah seorang manusia—dengan nama Bella Swan dan menjadi seorang vampir setelah dia melahirkanku karena kehabisan banyak darah—Ayah yang menciptakan Ibu, dengan keahlian menjadi perisai, sangat aman berada disana. Dan seseorang yang teramat sangat tak ingin kehilangan, yaitu Jacob Black, seoarang warewolf yang sama dengan ku separuh manusia dan separuh serigala. Tidak hanya Ayah, Ibu dan kekasihku, masih ada keluarga besar ku yang menyayangi ku dengan segenap cinta dan hidupnya. Keluarga vampir ku yang baik hati, Carlisle Cullen, Kakek adalah seorang dokter yang sangat tahan dengan bau darah manusia, tidak heran ia bekerja di rumah sakit Forks daerah kami tinggal. Nenek Esme Cullen, yang memberikan segenap cinta kasih nya kepada semua orang. Paman dan Bibi ku banyak sekali, Emmet Cullen, dia berbadan paling besar di antara kami semua dan senang sekali dengan kekerasan, Rosalie Cullen adalah pasangan Paman Emmet, dia memegang teguh prinsip, jadi tak halnya dengan orang yang keras kepala. Jasper Cullen adalah paman ku yang dulunya adalah pejuang vampir, bakat paman Japer adalah menyesuaikan emosional di sekelilingnya entah itu menjadi baik atau buruk. Pasangan Paman Jasper adalah Bibi Alice Cullen, dia memiliki indera ke enam yaitu bisa membaca masa depan walaupun orang yang bersangkutan merubah kepastiannya sendiri. Menarik sekali bukan?? Yang lebih menarik, keluarga vampir ku tidak memangsa manusia seperti kebanyakan vampir lainnya. Kami hanya berburu darah binatang saja. Cukup mengenyangkan tetapi tetap tidak puas, dan dengan cara begitu kami bertahan hidup.
Tak hanya keluarga vampirku yang hebat, keluarga kami juga bersahabat dengan keluarga warewolf-separuh manusia dan separuh serigala yang juga kekasih ku, Jacob Black. Secara keseluruhan, keluarga warewolf mempunyai kemampuan yang hampir sama dengan kemampuan vampir, tetapi mereka tidak punya bakat khusus, hanya bertukar pikiran dengan sesama—selama menjadi warewolf dalam satu kelompok. Jacob berbadan tinggi dan besar seperti monster tapi dengan begitu hatinya yang tulus dan lembut membuatku sangat tak ingin kehilangan dia, dan dia pula yang memberikan panggilan sayang “Nessy”. Aku tahu bagaimana hubungan Ayah, Ibu dengannya dulu dan itu yang membuatku semakin menyayangi mereka. Ketika Jacob menjadi serigala, dia berbadan seperti kuda namun berisi dengan bulu kemerahan tebal. Walaupun begitu, ia tidak membuatku takut malahan seperti memiliki anjing pribadi—oops, maafkan aku sayang. Dari keluarga serigala, banyak yang juga yang menyayangiku diantaranya Kakek Billy—Ayah dr Jacob, Tetua para Warewolf, Nenek Sue—Ibu dari Seth dan Leah serta istri dari kakek Charlie, Seth, Leah, Sam, Emily,dan kawanan serigala lainnya. Karena aku tidak bisa makan makanan manusia, maka Jacob lah yang mengajari ku makan-makanan manusia dengan sabar, terkadang aku memuntahkannya begitu saja. Bagaimana dulu aku di berikan Kakek Carlisle susu formula, sangat tidak enak dan membuatku mual. Keluarga manusia ku adalah kakek Charlie Swan—kepala Kepolisian di Forks dan Ayah manusia dari Ibuku. Sangat tertutup oleh emosi dan paling susah untuk bersosialisasi. Awalnya Kakek sangat takut dan kebingungan dengan semua mitos atau legenda yang menjadi kenyataan ini. Maka dari itu aku tidak pernah menyuarakan suaraku padanya. Kalau tidak suka tidak kulakukan. Kalau suka dengan senang hati aku melakukannya. Dan ada juga nenek RennĂ© beserta suaminya Phil, Nenekku ini sangat ceroboh untuk ukuran manusia dan melankolis, tetapi dia Nenek yang sangat hangat dan bersahabat, dan Phil Kakek muda ku, dia pemain bisbol team inti daerah, walaupun begitu, kakek Phil juga bermain sangat hebat. Wah keluarga ku banyak sekali ya, belom lagi teman-teman Kakek Carlisle yang membantu hidupku dari kematian ku. Mereka semua dari berbagai Negara serta berbagai jenis dan keahlian. Sangat panjang untuk di ceritakan, dan sesaat kemudian aku di kagetkan dengan tangan hangat di tubuhku. “Ya ampun, aku sampai tidak sadar!”. Jacob terkekeh “Sedang memikirkan apa pagi ini? Sampai serius sekali, aku khawatir karena kau senyum-senyum sendiri”. Baru aku sadar, aku sedang di kamar Ibuku dengan melihat album photo keluarga, saat itu aku masih terlihat seperti anak umur 2 tahun dengan pertumbuhan yang hanya 3 bulan saja dalam gendongan Ibuku. “Habisnya, Mommy lama sekali pulang dari Hanover!”. Kata ku sambil merengek, Ayah dan Ibu kuliah di sana untuk mendapatkan tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Ibuku kan masih di selubungi cita-cita manusianya, jadi mereka melanjutkan pendidikannya di kampus Dartmouth. Ayah yang meluluskan essay Ibu agar bisa kuliah berdua. Bisa dibilang keluarga kami sangat berlimpah dengan uang, wajar saja karena kami hidup abadi jadi bebas bagi kami untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. “Nessy, kamu menangis ya??”, suara Jacob menyentakan tangan ku yang sekarang sudah mengelap air mataku. “Aku kangen Mommy!!”. Jacob langsung menggendong ku keluar dari kamar Ayah dan Ibu melesat ke rumah keluarga Cullen—aku tinggal dirumah yang Nenek Esme berikan kepada orangtuaku. Sesampainya di depan rumah, Nenek langsung menyambutku dengan riang. “Nessy sayang, baru saja kami ingin menengok mu di rumah, karena Alice merasakan hal yang aneh. Ayo masuk, Jacob sudah kubuatkan makanan Italia seperti biasanya”. Bibi Alice memang tidak bisa melihat kami—aku dan Jacob tetapi bisa merasakannya, tidak heran Nenek Esme jadi panik begitu. “Aku hanya kangen Mommy dan Daddy.” Dengan nada sedih. Nenek Esme mengusap kepalaku. Langsung saja aku dan Jacob menyerbu makanan yang berbau lezat di meja makan. “Nessy, kamu sudah mulai menikmati hidanganku sayang?”. Dengan senyum ceria “Iya Grandma, aku mulai menikmati masakan Grandma yang lezat ini selagi aku tidak beburu”. Dengan cepat Bibi Rosalie membelai rambutku yang panjang dan ikal coklat. “Sayang, lanjutkan pelajaran yang kemarin ya, siapkan dirimu sayang.” Sambil mengecup rambutku, dengan cepat ku balas peluk Bibi sekaligus guru piano pribadi ku itu. Aku ingin sepintar Ayah bermain piano yang selalu memainkan lagu ninabobo untuk Ibu—lagu kesukaan Ibu yang diberikan oleh Ayah sewaktu menjadi manusia dan ia selalu meneteskan airmata, karena aku tahu pasti bagaimana hubungan cinta kasih Ayah dan Ibu dahulu, maka dari itu aku ingin mempelajari lagu ninabobo Ibu agar ia bisa bangga padaku saat pulang nanti. Dimulai dengan pelemasan jari-jari tangan dengan nada-nada yang sudah terhitung rumit dan mustahil hanya dengan belajar dalam sebulan. Bibi Rosalie selalu mengajarkan dengan senang hati dan penuh semangat. Sebagai ganti dari para penonton, biasanya Nenek Esme dan Jacob yang menjadi pengamat sejati. Dan aku yakin sekali, lagu ninabobo Ibu sudah ku kuasai. Dengan percaya diri ku tekan tuts-tuts piano sambil menikmati kenangan Ayah dan Ibu zaman dahulu. Dan terhenti ketika mendengar suara isak tangis, ternyata Jacob terharu mendengar alunan lagu nya. “Nessy, itu indah sekali sayang.” Jacob berbicara sambil terisak. “Kalau begitu aku sudah berhasil dong ya Bibi??”.”Iya kamu sudah berhasil sayang.” Dengan merangkul dan mengecup keningku. Tak sadar karena Bibi Alice langsung meyeretku ke kamarnya. Dan mempersiapkan alat-alat perang yang mematikan kata Ibuku, alat-alat kecantikan—Ibu sangat sederhana, tidak suka bersolek. Jujur aku senang sekali, karena dengan muka ku yang masih setengah manusia dan tak sepucat keluarga vampirku, aku tetap bisa cantik alami. “Aku lebih suka mendandani kamu Nessy dari pada Bella.” Dengan nada kesal. “Pokoknya kamu harus terlihat cantik dan manis hari ini.” Ya ampun, aku lupa Ayah dan Ibu akan pulang nanti malam, kok aku bisa lupa ya? Dan kenapa Jacob kok diam saja, huh. Selama satu jam aku menjadi patung, tiba-tiba Kakek Charlie menelepon dan ingin bermain bersama ku—walaupun aku terlihat seperi anak umur empat belas tahun saat ini. Langsung saja aku meninggalkan Nenek Esme , Bibi Rosalie dan Bibi Alice menaiki mobil Ferrari merah ibuku yang ada di garasi rumah Keluarga Cullen. Dalam perjalanan, Jacob sangat tegang dan tak seperti biasanya. Kulihat sekeliling ku tidak ada apa-apa. “Ada apa sih? Kok tegang begitu? Merasakan sesuatu yang aneh ya?” tanyaku panik. “Tidak ada apa-apa.” Dengan nada bergetar. Mungkin, karena Ayah dan Ibu akan pulang makanya Jacob jadi terlihat sedikit tegang. Di ujung jalan terlihat Kakek Charlie dan istrinya Nenek Sue yang melambaikan tangan ke arah kami. Ketika sampai, langsung aku memeluk Kakek dan Nenek ku yang manusia itu. “Sayang ku Nessy, aku sangat rindu padamu nak.” Mereka berdua bergantian memelukku. Dengan senang hati sambil bergandengan tangan dengan Nenek Sue aku memasuki rumah dan lagi-lagi aku langsung menuju kamar Ibu dulu-waktu menjadi manusia dan sebelum menikah dengan Ayah. Ibu sangat sederhana, aku sangat menyukainya. “Nessy sayang, spaghetti kesukaan mu sudah siap, ayo lekas nanti dingin.” “Iya Grandma.” Dengan cepat aku menuruni tangga meninggalkan kamar Ibu, oh ya, hanya kepada Nenek Sue lah aku masih bisa berbicara walaupun hanya sebatas ‘ya’ dan ‘tidak’, karena Nenek Sue juga separuh manusia dan serigala, walaupun sudah tidak memakai bagian serigalanya. “Nessy, aku sangat mengkhawatirkan mu sejak Bella dan Edward meninggalkan mu untuk melanjutkan pendidikannya.” Kakek ku memang selalu mengkhawatirkan orang-orang yang ia sayangi. Dengan cerianya aku tersenyum pada kakek dan dengan menambahkan porsi makan ku untuk menyatakan aku sangat senang sekali Grandpa mengkhawatirkan aku. Kakek sudah terbiasa dengan ku yang selalu menjawabnya dengan pasif dan diam. Tapi entah mengapa aku sangat menyukai masakan Grandma hari ini, apa karena aku sangat senang Ayah dan Ibu akan kembali hari ini? Mungkin saja, bagus kemajuan bagiku untuk bisa menguasai dua dunia. Dan entah mengapa Jacob tidak seceria tadi pagi, wajahnya yang di hiasi ketegangan masih membuatku bingung. “Oke Jake, sekarang kita menyiapkan peralatan memancing, karena Billy sedang sakit maka kau yang menemani ku.” Nada Kakek setengah memerintah. “Beres, semua bisa di atur. Akan menangkap apa kita? hiu kah??” dengan tertawa aneh Jacob membalas pembicaraan Kakek. Setelah sarapan, mereka berdua langsung meninggalkan rumah. Tinggalah aku dengan Nenek yang merapihkan sisa makanan tadi. “Nessy sayang, apa kamu baik-baik saja? Sepertinya kamu mengkhawatirkan sesuatu.” Nada Grandma seperti sedang menerorku. “Tidak ada apa-apa.” Jawabku dengan tersenyum seperi biasanya. “Grandma, aku ingin berjalan-jalan di hutan sebrang rumah, boleh kan? Hanya sebentar kok.” Dengan wajah manisku aku memohon kepada Nenek. Dengan sedikit terkejut, Grandma menjawab rengekan manjaku. “Hati-hatilah sayang di sana, jangan terlalu jauh jalan-jalannya ya. Ingat, bisa-bisa aku di marahi oleh Grandpa dan Jacob kalau sampai kamu hilang di tengah hutan.” Dengan cepat aku mencium pipi Nenek dan meninggalkannya menuju hutan depan rumah. Jalan setapak yang di buat sebagai penunjuk jalan. Hutannya tidak terlalu lebat dan masih segar juga untuk ukuran hutan yang sudah terjamah manusia. Suara kicau burung dan tetesan air hujan yang semalam menghujani hutan kecil ini begitu alami. Wah, pasti Ibu dulu kalau sedang suntuk melepaskan semua beban pikirannya disini. Sangat-sangat menyenangkan. Tapi di ujung jalan tepat lurus di depan jalan setapak yang kulalui, kulihat ada seseorang disana. Kulitnya gemerlap bagai berlian. Jangan-jangan… “Hai cantik, sedang apa kau sendirian di dalam hutan?” seorang anak perempuan, gaya bicaranya aneh, tapi dapat ku pahami, berambut bob pendek berwarna pirang, badannya yang ramping dan mungil mengingatkan ku pada Bibi Alice, kulitnya yang kuning langsat, memakai baju yang aneh, seperti orang asia, matanya yang sipit berwarna hitam legam haus karena dagaha, kira-kira umurnya lima belas atau enam belas tahun, bau yang tidak pernah kucium. Dia memandangku dengan heran dan mengejang, seperti biasanya aku tersenyum manis.
“Aku sedang berjalan-jalan dekat sini. Apa aku pernah mengenalmu?”
“Kurasa tidak, tapi aku mengenalmu.” Dengan tatapan tajam namun bersahabat.
“Oh begitu ya? Kalau begitu kamu sedang apa di dalam hutan ini sendirian?”
“Aku tidak sendirian aku bertiga dengan kelompokku.”
“Hmm, ingin bermain atau berburu?”
“Lebih tepatnya ingin mengenal daerah ini sebelum berburu”
“Ini kawasan netral, kalau ingin berburu…. Karena La Push daerah warewolf, maka daerah Olympic adalah tempat tinggalku, mungkin daerah ini tidak cocok untuk berburu bagi pendatang baru.” Memberi informasi sedikit tentang daerah ini.
“Maka dari itu kami sedang memeriksanya. Hei cantik, sepertinya kami sangat asing melihatmu tapi tidak juga kurasa.” Gadis itu kebingungan dan tetap mengawasi sekeliling.
“Oh ya, namaku Rennesme, senang berkenalan dengan mu.” Balasku ceria.
“Oke, sampai nanti.” Dengan terburu-buru dia melesat bagai bayangan buram dan sekaligus di peluknya tubuhku dari belakang dengan geraman kecil. “Nessy-ku, kamu jangan jalan-jalan sendirian tanpa ku!” Dengan nada terlihat kesal aku membalas pelukan Jacob. “Aku hanya ingin berjalan-jalan sebentar kok.” Tapi dengan mendongak ke langit yang ternyata sudah mulai gelap dan jalan menuju keluar hutan yang sangat jauh, berarti aku jalan cukup jauh dan lupa waktu—seperti biasa kalau aku sudah asyik dengan apapun. “Aku mencium bau yang tak dikenal, baru saja dan setelah aku sampai pada bau itu aku menemukanmu sendirian.” Nada Jacob kesal sekali, apa aku sudah kelewat batas ya?. “Mommy dan Daddy bakal menghabisi ku kalau kau sampai lecet sedikitpun!” Ugh, aku jadi merasa bersalah, ku urungkan niatku untuk menceritakan apa yang terjadi. Habisnya Jacob seperti mendapatiku mati di dalam hutan. Sesampainya di rumah Kakek Charlie, Jacob langsung berpamitan untuk pulang karena sebentar lagi orangtuaku akan datang. Langsung saja Jacob menancap gas yang membuatku sedikit kesal. “Jake-ku, kamu kenapa sih? Memangnya aku mati di dalam hutan. Berhati-hatilah, Mommy dan Daddy kalau sudah pulang pun juga tidak masalah. Kamu juga seharian menemani Grandpa Charlie memamcing menggantikan Grandpa Billy.” Benar-benar deh, Jacob menjengkelkan hari ini, tidak seperti biasanya. Sambil menahan amarah aku bertanya-tanya. Siapakah gadis tadi yang kutemui di hutan. Apakah kenalan kakek Carlisle? Apakah utusan dari Keluarga Volturi di Italia atau siapa saja yang mengenal keluarga Cullen. Sangat asing di benakku.
Akhirnya sampai juga di rumah keluarga Cullen. Rumah yang biasanya sepi seperti tidak ada kehidupan sepertinya sekarang sedang merayakan pesta ulang tahun. Oh ya, orangtuaku sudah pulang. “Mommy, Daddy!!!” aku melompat dr mobil dan langsung berlari memasuki rumah. “Nessy!!!” Ayah dan Ibu meraih tanganku dan Ayah langsung menggendong tubuhku yang tidak seperti anak kecil lagi. “Sayang kamu sudah bertambah besar saja. Bagaimana sekolah mu? Teman-teman mu? Apakah Jacob menggigitmu ketika berburu?” Dengan nada seperti alunan melodi, ayah menanyakan kabarku. “Aku senang sekali Daddy menanyakan kabarku, seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja. Sekolahku menyenangkan begitu juga dengan teman-teman ku. Apa Mommy lulus juga?” melirik ke arah Ibuku dengan tatapan mengejek. “Sayang, aku memang tidak pintar, tetapi aku akhirnya lulus juga dengan bimbingan belajar Daddy, sangat membantu.” Ibu memang tidak sejenius Ayah, tapi Ibu tergolong orang yang rajin, maka dari itu, Ayah lulus kuliah dua tahun lebih cepat di bandingkan dengan Ibu. Aku langsung turun dari gendongan Ayah dan meraih tangan Ibu. “Selamat Mommy, Daddy atas kelulusan kalian.” Tiba-tiba kakek Carlisle memotong acara kangen-kangenan kami. “Nessy, ada tamu istimewa lho, yang ingin berjumpa dengan mu.” Dengan perasaan bingung aku melepaskan pelukan Ibuku, dengan hati-hati aku melihat sekelilingku. “Dia sama manisnya dengan kau, sayang. Ayo… jangan malu dengan Nessy, keluarlah.” Sedetik itu juga Jacob sudah di sisiku dengan sigap menjagaku dari bahaya. Tetapi semua yang berada di ruangan itu tidak terlihat bingung dan khawatir seperti Jacob dan aku. “Ayolah, kalian kan sudah menantikannya dari minggu kemarin.” Suara ajakan Kakek Carlisle terdengar menyenangkan. Dan kulihat dari arah dapur, ada tiga anak yang berumur empat belas atau enam belas tahun-kira-kira umurnya segitu. Diantaranya dua laki-laki dan satu perempuan. Aku mengenali anak perempuan itu. Oh, anak perempuan yang tadi aku temui di hutan, Jacob langsung menggeram kecil di sampingku. Kakek Carlisle dan Paman Jasper menenangkan Jacob, akhirnya Jacob kembali tenang dan tidak terlihat khawatir lagi. “Nessy, ini adalah kelompok dari Jepang. Mereka kurang lebih sudah empat tahun tinggal di Denali—dengan Keluarga Tanya. Mereka juga vegetarian seperti kita. Mereka ingin sekali bertemu dengan mu karena mendengar ada anak yang sempat menjadi masalah dengan Keluarga Volturi—Kerajaan vampir yang berkuasa dan tinggal di Itali. Mereka berhasil melarikan diri dari serangan vampir-vampir ganas yang sedang melanda Jepang.” Kakek Carlisle menjelaskan panjang lebar, semua keluarga sangat menerima kedatangan tamu muda ini. Dengan ragu-ragu aku menyapa mereka. “Hallo, salam kenal namaku Rennesme, dan kalian boleh kok memanggilku Nessy.” Dengan cepat mereka sudah berdiri di depan ku. “Hallo cantik, namaku Mariko, maaf tadi aku membuatmu bingung di dalam hutan.” Dengan malu-malu Mariko mengakui pertemuan singkat kami, dengan mata cokelat cerah saat ini—karena sudah berburu. “Hei, selamat malam. Namaku Tatsuro.” “Hallo Nessy, namaku Ryohei” tanpa basa-basi langsung kupeluk mereka bertiga, dan kurasakan mereka mengejang. Mariko seperti Bibi Alice, tapi dia bisa melihat makhluk separuh seperti aku dan Jacob. Tatsuro, laki-laki yang berbadan tinggi kurus, berambut hitam dengan potongan atas kepala tipis dan panjang sebahu, bermata abu-abu cerah—karena dia senang sekali memakai softlense, walaupun umurnya masih enam belas tahun tetapi dapat membuat ilusi yang baik maupun yang buruk dengan mudahnya. Dan berpenampilan yang hitam-hitam terkesan seperti anak musik metal. Dia pasangan Mariko. Dan Ryohei, laki-laki yang terlihat lebih feminin dengan balutan baju gaun santai eropa wanita, berambut emas panjang sebahu yang dikucir sangat feminim, bermata cokelat cerah. Dia memiliki semacam kekuatan es yang bisa melukai lawannya hingga mati hanya dengan mengunakan air—apapun. Dan yang pasti, mereka kaya akan gaya berpakaian yang seperti kita tahu cara berpakaian anak muda Jepang yang sering di sebut Harajuku style. “Wah, Bibi Alice pasti tidak akan kesepian seperti biasanya ya?” sembari menatap Bibi Alice yang sudah di samping Ryohei. “Benar-benar mengejutkan, Nessy.” Kata Mariko sambil tersenyum ceria, “Nessy, sangat istimewa, ternyata berita itu benar adanya.” Tatsuro menambahkan. ”Nessy juga cantik dengan pipi pink alami dan mata cokelat, benar-benar mengejutkan.” Ryohei langsung menyentuh pipiku dengan mengucapkan “Kirei na.” yang dalam bahasa Jepang, Cantik—Ryohei langsung mengucapkannya dalam Bahasa Inggris. “Nessy sayang, kamu ingin memberikan apa untuk Ibumu?” suara Bibi Rosalie yang mengagetkaku dan Ibu, langsung saja aku menuju piano Ayahku yang terletak di ruang tamu. Dengan napas teratur aku memainkan lagu ninabobo untuk Ibu dengan perasaan yang dahulu mereka rasakan. Ibu sangat terharu dan memeluk Ayah dengan tangisan yang tak bisa ia bendung lagi. Dan lagi-lagi Jacob menangis seperti anak perempuan. Dipeluknya aku oleh Ibu “Nessy-ku sayang, Mommy sayang padamu, sampai kapanpun, selamanya.” “Aku juga menyayangimu Mommy, Daddy.” Tak disangka-sangka ternyata Mariko dan Ryohei juga ikut terharu. Suasana di rumah keluarga Cullen sekarang pindah ke kamar tidurku di rumah yang tak jauh dr rumah Keluarga Cullen. Hari ini hari yang menyenangkan, sampai-sampai aku ketiduran mendengar cerita mereka selama berada di Jepang dan tentu saja mereka menemani ku tidur. Aku senang sekali bisa bersama-sama lagi dengan orangtuaku. Waktu berburu dengan mereka sangat menyenangkan, terkadang Tatsuro yang tidak sabar malah membuat ilusi untuk Mariko yang ada di dekat mangsa lalu Ryohei yang terkadang suka tidak tega dengan mangsanya dan berkata “Kasihan dia.” Dengan nada sedih. Sangat menyenangkan menghabiskan waktu dengan meraka, Jacob pun tidak pernah absen berada di sisiku, mereka berdua—Jacob dan Tatsuro, selalu adu kekuatan. Mereka juga berkenalan dengan keluarga warewolf, Tatsuro yang sering salah paham dengan Leah—karena dia sangat keras kepala dan sesuka hatinya berbicara tanpa melihat kondisi, lalu berakhir dengan gigitan Leah yang menancap di lengan Tatsuro. Mariko yang senang sekali memasak, membagi resep makanan Jepang bersama Nenek Esme, dan Emily—kekasih warewolf Sam. Masakan Jepang ternyata enak juga lho—aku yang setengah manusia juga menikmati masakan Mariko. Ryohei yang senang berbelanja dan bereksperimen dengan Bibi Alice, mengajari Bibi Alice style-style anak muda Jepang, dan sekarang targetnya Paman Emmet dan Bibi Rosalie yang menjdai model kecantikan mereka. Dengan di temani Paman Jasper agar emosi mereka tenang dan bisa terkendali saat di jadikan eksperimen. Ibu hanya tertawa dan pergi ketika eksperimen kecantikan mereka di mulai, dari gaya Eropa sampai Asia. Hanya dua minggu mereka disini, dan mereka harus kembali ke Jepang, menyelamatkan para manusia dari bahaya vampir yang haus darah, dan sebisa mereka mengajarkan vampir-vampir baru, bagaimana caranya bisa berdampingan dengan manusia. “Mariko, kalau ingin bermain bersama atau ingin mengenali keluarga barumu jangan lupa mampirlah ke Olimpic.” Aku mengucapkannya dengan nada bergetar, baru saja aku mempunyai teman baru. “Oke Nessy, kami tidak akan pernah lupa pada keluarga Cullen dan warewolf yang baik hati.” Mariko juga berkaca-kaca. Kupeluk mereka bertiga sebelum pergi. Dengan senyum manis, mereka melesat bagai cahaya menuju Jepang. Tak sadar ternyata aku sudah di kamar tidurku lagi. Ternyata Ayah yang membawaku karena tertidur di kamar Ayah—kamar ketika masih tinggal bersama di rumah keluarga Cullen. Dan terdengar samara-samar, Ayah menyanyikan lagu ninabobo Ibuku kepada ku, membuatku kembali terlelap.
----
komentarnya yha^^ *baru pertama kali ngepos Fanfic*
Tuesday, April 21, 2009
[Fanfic] RENNESME'S DAIRY
Dance by Ayah *Angga* & Bunda *Naya* at 5:04 AM
Rooms: Breaking Dawn, Fanfic, Rennesme
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 MI-Cash:
Post a Comment